Kata-kata pak Ustad di hari lebaran

•Oktober 15, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pengalaman disaat lebaran tahun ini aku tidak mudik, di tempat aku mengontrak suasana sepi sekali. Bandung benar2 seperti dikurangi penduduknya secara massal. Tapi ada satu pengalaman yang baik aku terima pada saat itu, yaitu ketika bersalaman dengan seorang ustad yang populer yang kebetulan tinggal di perumahan didaerah antapani ketika seusai sholat ied bersama di lapangan.

Walau ustad itu tak sepopuler aa’ gym tapi kata orang2 disitu ustad itu cukup populer namanya di bandung dan jakarta. Karena dakwah nya yang menyentuh hati. Disaat tidak sengaja aku ber-minal aidzin, sang ustad bertanya “Mas, kok jarang saya lihat di daerah sini? Mas warga baru ya?” Spontan saja saya jawab kalau memang saya warga baru, baru ngontrak 7 bulan disitu maksudnya. Setelah perbincangan kecil akhirnya tiba berbincang pada saat itu saya mengatakan kalo sekarang lagi musim orang sakit karena perubahan iklim yang tidak menentu. Dan saya mengatakan kalau akhir2 ini jadi terserang sakit. Eh, sang ustad malah berkata, jika orang sakit itu itu tandanya diuji oleh Allah. Dan Allah akan meninggikan derajad orang sakit jika orang tersebut mau sabar. wah, dalam hati koq baru denger ya? (hehehe) Berarti orang yang sakit lebih ditinggikan derajadnya donk? Tapi sapa ya yang mau sakit? Jadi sedikit lebih bersabar aku menghadapi geregetan flu yang sering menyerangku akhir2 ini.

Setelah lama ngobrol akhirnya pertanyaanku jadi bertubi2, biasa aku kan terkenal orang yang suka banyak nanya. “Ustad, setelah saya melihat lika-liku kehidupan ini, saya melihat jurang perbedaan yang sangatlah dalam di dunia ini. Kebetulan saya melihat dunia orang2 kaya yang hartanya melimpah, makan enak, kehidupan tidak pernah merasakan sengsara untuk sesuap nasi, tiap hari hanya memikirkan kerja, cari uang, sibuk memikirkan tabungan, beli rumah, mobil, anak2nya juga kerjaan hanya maen game on line, kuliah, pengen mobil baru, tiap hari cucian dan kerjaan bersih2 rumah hanya pembantu yang mengerjakan. Bahkan untuk bangun tidur, cuci piring, nyapu, ngepel semua pembantu. Tapi orang2 kaya ini mereka selalu sholat ustad. Sedangkan ada lagi sisi kehidupan dimana penghasilan pas2an, sibuk cari uang tiap hari untuk sesuap nasi, tak jarang pula itupun kurang buat beli kebutuhan. Belum lagi untuk sekolah anak2nya bagi yang punya anak, semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan sendiri, boro2 pake pembantu, buat makan aja gak ada. Kerja keras tiap hari dan penghasilan hanya pas buat makan sehari2 aja, tapi mereka sampai lalai sholat ustad, ketidak adilan ini siapa yang salah ustad? Koq rezeky mereka hanya segitu2 aja walau mereka bekerja lelah secara fisik dan batin?”

Dan sang ustad menjawab, ” Sebenarnya disebutkan dalam al-qur’an bahwa Allah lebih dekat dengan kaum miskin daripada kaum yang lebih mampu. Walau mereka sebenarnya salah melupakan sholat 5 waktu. Belum tentu orang yang sholat itu hatinya juga sholat. Orang2 yang mampu diberi kemudahan untuk sholat, tempat wudlu, mushollah, pakaian mereka sudah disediakan dengan baik karena berkecukupan fasilitas. Waktu untuk sholat juga selalu ada karena mereka tidak berjibaku dengan keringat. Apabila ada 2 orang yang satu miskin tapi selalu sholat 5 waktu, dan kaya juga sama2 sholat 5 waktu, maka Allah lebih memuliakan orang yang miskin tp sholat 5 waktu. Karena sesungguhnya Allah sangat dekat dengan orang2 yang miskin. Maka dari itu mas, jika anda terkena sakit, musibah, dan kekurangan secara finansial, maka bersyukurlah dan hadapilah dengan senyuman. Anggap saja Allah masih memperhatikan anda dan memberi anda sedikit cobaan. Daripada yang kehidupannya aman2 saja, sakit jarang, tiap hari hidupnya itu2 saja alias monoton. Pagi kerja, sore pulang, makan, tidur besoknya kerja lagi, tiap hari mampu membeli apapun, sabtu minggu memikirkan untuk kesenangan ketika libur kerja. Anggap anda sedang diberi variasi hidup oleh Allah. dan jangan lupa beramal.”

Aku jadi berpikir flashback ketika sang ustad mengatakan seperti itu. Sedikit cerita, dulu ketika aku masih SD kehidupanku sangatlah kekurangan. Bapakku hanya sopir truk, ibu berjualan martabak dan es, kakakku yang cowok pengamen jalanan untuk membantu biaya sekolahnya, sedangkan aku sendiri tiap kesekolah membawa es untuk dijual tiap jam istirahat dan pulang sekolah.  Dalam hati ingin sekali seperti yang lain jajan pas istirahat, maen bola, dan lain, tapi hatiku mengatakan, aku lebih memikirkan ibu dirumah daripada kesenangan itu. Hidup keluargaku dibelit hutang yang cukup banyak, sehingga aku sampai hafal jika para penagih hutang datang aku harus siap berbohong setiap saat bilang bahwa bapak/ibu sedang tidak dirumah, hehehe. Hidup keluargaku sedikit meningkat ketika nenek mulai menerima ibuku, perlu diketahui nenek dari Bapak ku adalah orang mampu yang mempunyai banyak sawah, tetapi tidak menyetujui perkawinan kedua orang tuaku karena ibuku hanyalah orang susah. Ibuku tidak lulus SD dan dia bekerja sejak kecil untuk menghidupi nenekku dari pihak ibu dan adik2nya. Ketika nenek sudah mulai sakit2an, yang merawat malah ibuku, dan sejak hampir di akhir hayatnya neneku baru mau menerima ibu dan menyuruh semua keluargaku pindah ke rumahnya. Sejak nenekku meninggal, kehidupan ekonomi keluargaku mulai meningkat. Bapak banyak menjual sawah warisan untuk menutup hutang, sisanya untuk membelikan rumah kakak2ku yang sudah berumah tangga. Dan sawah terakhir sebenarnya tidak mau dijual oleh bapakku, tetapi oleh om ku yang dibandung dipaksa masukin ke inter banking yang saat itu marak. Tapi bapakku tidak percaya pada yang begituan. Tapi karena doktrin tiap hari dan bujukan om dan tanteku, dan mereka berjanji akan mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu, ditambah lagi pada saat itu harga pupuk yang kian melambung tinggi, maka ayahku menjual semua tanahnya untuk dimasukkan ke inter banking.

Singkat cerita, akhirnya setelah 1,5 tahun, bencana itu terjadi, inter banking ludes semua. Orang tuaku tidak punya apa2 lagi untuk dimakan, sedangkan om dan tanteku cuci tangan. Jika dimintai pertanggungjawaban mereka bilang mereka sendiri juga kena imbasnya. Secara rasional aku pikir mereka masih punya penghasilan, sedangkan orang tuaku sudah tidak mampu lagi bekerja. Perlu diketahui bapakku berumur 59 tahun dan pernah terkena stroke berat lumpuh total. Bersyukur beliau divonis dokter akan lumpuh seumur hidup tetapi mukjizat Allah berkata lain, bapakku bisa berjalan sampai sekarang walau tenaganya sudah tidak bisa dipakai untuk yang berat2. Naek motor aja sudah tidak mampu sekarang, tapi aku bersyukur bapakku masih diberi kesehatan sampai saat ini.

Singkat kata aku merantau ke bandung, dan sampai saat ini aku bekerja ikut membantu membiayai makan kedua orang tuaku. Walau orang melihat aku sebelah mata, tapi aku bersyukur dengan kehidupanku ini. Entah kenapa aku selalu dipandang sebelah mata oleh orang, bahkan teman2ku sendiri. Tetapi aku selalu ingat kata bapakku “orang2 hebat yang lahir dan mampu merubah dunia ini hampir semuanya selalu diremehkan orang2 terdekatnya sejak kecil”.  Contoh saja albert einstein, dia mempunyai kepala yang lebih besar dari yang lain, dia disebut “si aneh” atau “freak” sejak kecil oleh teman2nya, karena kebiasaannya berdiam diri. Bill Gates, dia Drop Out dari kuliah, di juluki orang yang keras dan suka ngotot.  Aku berpikir, aku punya penghasilan yang cukup sekarang, jangan sampai aku lupa 2,5% penghasilanku adalah milik mereka. Tukang sampah yang tiap pagi mengambil sampah dikontrakanku, dia punya 3 anak, dan aku sangat mensyukuri hidupnya, kenapa aku tidak ya? Kdang2 aku masih suka mengeluh, itu yang aku sesalkan.

Karena itu aku lebih suka belanja ke pasar, membeli minuman/makanan ringan di warung rombong pinggir jalan, makan sate dan nasi goreng di warung pinggir jalan, itung2 memberi untung buat orang susah (tapi yang sudah langganan dan terjamin kesehatannya).  Kadang2 aku tak habis pikir, orang berpenghasilan tinggi enggan membeli di warung rombong karena harganya selisih 500 rupiah daripada di supermarket. Apa arti memberi 500 rupiah kepada orang tidak mampu sih daripada memberi 300 rupiah kepada pemilik supermarket yang sudah kaya raya? Coba pikirkan daripada membeli di supermaket, makan di restoran, belanja di mall, malah memberi untung orang yang sudah kaya.

Itulah sedikit cerita tentang pengalaman lebaran dengan sang ustad, beliau jadi mengingatkan aku untuk lebih bersyukur. Dibalik semua itu mungkin aku sudah diberi imbalan anugrah yang lain, mungkin istri yang luar biasa hebat dan sabar, hehehe. Tapi anehnya semua keluargaku dan saudara2ku lebih sayang dan perhatian daripada istriku, bahkan kedua orang tuaku, kata mereka istriku sangat lah penyabar, selalu sholat 5 waktu, pintar memasak, bisa diajak hidup susah, menerima apa adanya segala sesuatu, tidak punya rasa iri hati, tidak banyak bicara dan yang terpenting selalu mau mengingatkan aku dan selalu mau sabar menerima omelan dan luapan kemarahanku. Bisa dikatakan aku memang orang yang tempramental. Sesuai dengan namanya “ainun zaria” yang artinya sumber mata air surga. Dan dia lahir bertepatan dengan idul fitri, sssttt rahasia lo, hahaha. Kata teman2 kuliahku dia itu anugrah, sedangkan aku musibah. (asem)

Istriku lah yang memberi spirit hidup selalu padaku, kata-kata sang ustad jadi mengingatkanku pada kata istriku juga. Disaat aku sakit, istriku berkata “yang sabar, itu tandanya Allah masih sayang sama sampean”. Dan ketika keluargaku terkena musibah inter banking, dia berkata kalau rezeky dan harta itu hanya titipan, kalo Allah mau mengambil kapanpun Dia mau ya sudah. Ketika Bapakku terkena stroke dia yang selalu setia merawat, baik masih di rumah sakit atau sudah dirumah. Itulah kenapa bapakku sangat sayang kepada istriku. Perlu diketahui kami berpacaran selam 7 tahun sejak aku kuliah semester 3 dan dia SMA kelas 2. Dulu sejak SMP dan SMA aku terkenal suka gonta-ganti pacar, ga tau kenapa sejak mengenal dia aku merasa dia belahan jiwaku.(cieeeee)

Sudah cukup sedikit cerita dariku di blog ini, itung2 belajar jadi penulis, hahaha. Inilah sedikit cerita yang berawal dari arahan ustad.

GSM Network tidak lepas dari peran penting OMC

•September 28, 2008 • 1 Tanggapan

Perkenalkan, saya hendra adalah OMC Regional. Kesempurnaan Network GSM system saya rasa tidak pernah lepas dari peranan seorang OMC yang handal, walau kadang-kadang OMC tersebut tidak berasal dari inner perusahaan selular tersebut.
Seorang OMC yang handal adalah yang mampu memanage jaringan sesuai dengan kebutuhan, tidak hanya berdasarkan dari data statistik saja. Misal, kebutuhan traffict dilihat pada jam-jam tertentu sangatlah padat sehingga diperlukan split channel half rate sehingga kualitas voice menurun tetapi kuantitas atau jumlah traffict yang dihandle bisa banyak. Sebenarnya dengan eksekusi half rate seperti ini para Network Planning mungkin hanya memperhatikan grafik kebutuhan pada saat busy hour saja yang hanya sekitar 3-4 jam, sehingga ketika jam-jam biasa maka banyaklah customer yang dirugikan karena kualitas voice menurun.
Selain bertugas monitoring seluruh alarm dan info kepada BSS engineer jika terdapat gangguan, OMC mampu bekerja sangat kompleks dan menguasai jaringan-nya sendiri jika dia mampu. Tetapi banyak juga OMC yang hanya taat pada prosedur yaitu tugasnya hanya monitoring saja, dan sampai disitu saja dia tidak berkembang.
Bagi saya 1 trx saja yang tidak bekerja, mk itu sudah mempengaruhi system. Apalagi jika trx itu berada pada BTS yang urgent atau penting seperti dalam kota. Kemampuan analisa OMC sangatlah baik jika dikombinasi dengan pengenalan lapangan dengan baik juga, misal posisi transmisi dan site yang daerah urgent tadi.

Mungkin bagi kebanyakan yang belum merasakan sift malam menganggap sift malam tidak begitu repot, itu adalah anggapan yang SALAH. Karena sift malam terasa lebih berat dari sift pagi. BIla setiap orang bekerja di pagi hari, maka itu biasa. Jika memang orang bekerja di malam hari terasa lebih ringan, kenapa semua orang tidak bekerja di malam hari saja? Secara logika kan begitu? Kenyataanya orang bekerja di pagi hari, dan jika hanya terpaksa bekerja di malam hari, untuk menghindari busy hour supaya tidak banyak traffict yang dikorbankan.  Bila tidak percaya silahkan begadang semalam saja untuk bekerja, maka capek di esok harinya akan seperti terasa habis bekerja 2 sift di pagi hari. Banyak orang yang bilang dimalam hari tidak banyak troubleshoot dan gangguan, itu juga SALAH. Pada kenyataanya semua rehoming BSC yang ada selama ini tidak pernah di pagi atau siang hari, semua kerjaan penting seperti frekuensi retune  selalu dikerjakan di malam hari.  Penambahan ATER atau link MSC juga dikerjakan di malam hari.  Half Rate Rebalancing juga di usahakan malam hari prosedurnya. Semua kegiatan OSS dan upgrade apapun juga dikerjakan malam hari, bahkan kerjaan vendor seperti upgrade transmisi dan upgrade hicap semuanya dikerjakan di malam hari, dan juga optimasi network atau juga malam hari.  Karena itu yang mengatakan sift malam lebih ringan itu menandakan dia tidak pernah mengalami sift malam itu sendiri.
Disaat lebaran ini saya bertugas kembali bekerja stan by untuk memonitoring dan manage traffict. Dan saya akan berusaha for the best in Network di perusahaan selular yang tercinta ini…